Cuaca Ekstrim Di Perairan Indonesia, Kemenhub Ingatkan Nakhoda Kapal

0
538
Ilustrasi

IMG-20190529-WA0045

Kobar News, Jakarta – Bersamaan dengan masuknya arus balik mudik laut Lebaran, Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan cuaca dan kondisi gelombang di laut dari Tanggal 8 sampai dengan 12 Juni 2019.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad mengingatkan adanya Peringatan Dini Gelombang Tinggi pada periode waktu tersebut. Untuknya kepada seluruh petugas di lapangan dan juga operator agar memerhatikan betul peringatan tersebut dan terus memperbarui informasi paling lama enam jam sekali.

Iklan Lanud Iskandar (Revisi)

“Peringatan ini juga berlaku bagi para penumpang agar memahami bila berada pada kondisi cuaca yang kurang baik dan jangan memaksa berangkat jika cuaca tidak bersahabat,” tegas Ahmad di Jakarta, Minggu (09/06).

Dia menyampaikan saran keselamatan yang perlu dilakukan oleh operator pelayaran. Harap diperhatikan risiko tinggi keselamatan pelayaran. Diantaranya untuk perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter), kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter).

IMG-20190529-WA0026

Selanjutnya kapal ferry (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter). Kapal ukuran besar seperti kapal kargo/pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter).

“Kami juga minta kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar selalu waspada,” tuturnya.

Iklan Bupati

Tinggi gelombang pada periode tersebut sebesar 1-25 sampai dengan 2,5 meter dengan status waspada ada di wilayah perairan Selat Malaka bag.Utara, Perairan Barat P.Simeulue, Perairan Padang, Selat Sunda bag.Utara, Perairan Selatan P.Sumba, Selat Sumba, Laut Sawu, Perairan P.Sawu, Perairan Kupang – P.Rote, Laut Timor Selatan NTT, Laut Natuna Utara, Laut Jawa bag.Timur, Perairan Selatan Kalimantan, Perairan Kotabaru, Selat Makassar bag. Selatan, Laut Sumbawa bag.Utara, Perairan Kep.Sabalana – Kep.Selayar, Teluk Bone bag.Selatan, Teluk Tolo, Perairan Selatan Kep.Banggai – Kep.Sula, Perairan Manui – Kendari, Perairan Bau Bau – Wakatobi, Perairan Selatan Ambon, Laut Banda, Laut Flores, Perairan Utara Flores, Perairan Kep.Sermata – Letti, Perairan Kep.Babar – Tanimbar, Perairan Kep.Kei – Kep.Aru, Perairan Barat Yos Sudarso, Perairan Amamapere-Agats, Perairan Fak Fak – Kaimana, Laut Seram bag.Timur, Perairan Manokwari, Perairan Biak, Perairan Utara Jayapura – Sarmi, Samudera Pasifik Utara Papua Barat hingga Papua.

Iklan Barsel lebaran

IMG-20190529-WA0040IMG-20190529-WA0024Iklan GapensiIklan Kapuas Prima CoalIklan KPU KobarIklan Lebaran BGAIklan pdam kobar lebaranIklan PT.BestIklan RSUD Imanuddin

Sedangkan tinggi gelombang 2,5 sampai dengan 4 meter dengan status berbahaya ada di wilayah perairan Sabang, Perairan Barat Aceh, Perairan Barat Kep.Nias – Kep.Mentawai, Perairan Enggano – Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Sumatera, Selat Sunda bag.Selatan, Perairan Selatan Banten – P.Sumbawa, Selat Bali – Selat Lombok – Selat Alas bag.Selatan, Samudera Hindia Selatan Jawa Barat hingga NTT, Laut Arafuru.

Sementara itu, tinggi gelombang sebesar 4 sampai dengab 6 meter dengan status sangat berbahaya ada di perairan Samudera Hindia Selatan Banten.

“Kondisi gelombang tinggi ada di beberapa titik dan harus menjadi perhatian nakhoda dan Syahbandar,” tutup Ahmad. (Rilis Humas Ditjenhubla/One)

 

TINGGALKAN KOMENTAR