Walau Harga Buah Sawit Turun, Kelapa Sawit Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Indonesia

0
301
Head of Public Relation di PT Astra Agro Lestari, Tbk (Grup Astra), Tofan Mahdi bersama Ketua PWI Kalteng, Sutransyah

Iklan RI Astra

Kobar News, Palangka Raya – Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang belum bisa digantikan sampai kurun waktu 15 sampai 20 tahun kedepan. Karena Tahun 2017 ekspor minyak sawit menyumbang devisa terbesar Rp. 22,9 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp. 300 triliun.

IMG-20180830-WA0098

Selain itu, dalam penyerapan tenaga kerja di sektor Perkebunan Kelapa Sawit sekitar 25 juta orang. Angka tersebut merupakan angka yang sangat luar biasa dan penting buat perekonomian nasional.

“Tidak ada kelapa sawit, mungkin nilai tukar Rupiah kita akan semakin terpuruk terhadap dolar Amerika tapi karena kita masih punya ekspor sawit, depresiasi rupiah di tengah menguatnya dolar hampir terhadap semua mata uang asing itu masih bisa tertahan,”ungkap Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Tofan Mahdi kepada Kobar News disela acara Workshop Jurnalistik Peran Media dalam Menyongsong Masa Depan Industri Kelapa Sawit Indonesia, di Palangka Raya, Kamis (30/08).

Iklan BGA ASM

Saat disinggung Penyebab turunya harga buah kelapa sawit, Head of Public Relation di PT Astra Agro Lestari, Tbk (Grup Astra) menyebutkan bahwa saat ini sedang terjadi over suplay karena saat ini sedang musim buah dan juga melemahnya permintaan dari pasar ekspor Negara China, India dan Eropa. Namun, hal tersebut merupakan hal yang biasa.

“Ini siklus yang biasa karena kebutuhan minyak nabati saat tinggi dan itu hanya mungkin dipenuhi oleh minyak sawit maka mau tidak mau kita masyarakat dunia ini akan butuh untuk beli minyak sawit itu. Untuk harga kita nggak bisa nggak bisa apa nggak bisa menentukan itu murni mekanisme pasar. Namun, trend Ekspor saat ini sudah mulai naik,”jelasnya.

Tofan juga berharap dalam kuwartal terakhir harga akan mulai terangkat. Dengan melemahnya pasar Eropa memang harus berpikir untuk mencari pasar ekspor baru atau menjaga pasar-pasar tradisional yang lain seperti Negara Pakistan, India dan China.

Iklan RI Kejari

“Saat ini di Negara Eropa mulai memperbanyak aturan terutama aturan bahwa bio diesel itu nggak boleh pakai minyak sawit karena ada aturan tentang apa kriteria keberlanjutan energi derktif dan macam-macam bentuk aturan lainnya,”pungkasnya.

Saat ini, Minyak Sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia. Dan Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar didunia dan nomor duanya Malaysia. Minyak sawit sedang dalam persaingan pasar minyak nabati karena mengalahkan minyak nabati yang dihasilkan oleh negara-negara Amerika maupun Eropa. (ta/One).

Gamma Sopian Alat Vital

TINGGALKAN KOMENTAR