Mengais Rejeki Kubangan Jalan Kolam – Pangkalan Bun

0
1011

iKLAN 1-2Re Iklan iZaura

Irwanudin – Kobar News, Pangkalan Bun

Musibah tidak bisa dielak, Rejeki tidak bisa ditolak, itulah kata-kata banjir di Jalan Kolam – Pangkalan Bun, dengan puluhan perahu getek yang berusahan mengantarkan penumpang yang kesulitan melintasi jalan tersebut.

Tim Kobar News, mendengar jalan Pangkalan Bun – Kotawaringin Lama (Kolam) terputus, langsung ingin melihat kondisinya seperti apa, apakah seperti foto di media sosial facebook atau hanya permainan foto saja.

Ternyata benar, bahkan lebih parah dari yang tergambar dari foto di facebook. Dalam foto kendaraan bisa melintas, tapi pada kenyataannya justru apabila melintas akan membuat kendaraannya terperosok pada kubangan jalan yang terimbas banjir.

Menurut informasi yang dihimpun tim Kobar News, ada lima titik kubangan banjir yang menutupi jalan tersebut, yang dimulai dari Kilometer 30 dari arah Pangkalan Bun menuju Kolam dan titik kedua Km 31 dan tiga titik lainnya hingga masuk Kolam.

Untuk mencapai tujuan, warga yang menggunakan taksi dari arah Pangkalan Bun, cukup sampai di Km 30, dan menariknya, ada 60 buah getek yang mengantri siap mengantarkan penumpang dengan tujuan Kotawaringin Hilir.

Harga sekali jalan, terbilang hitungan carter sebesar Rp 125 ribu sepenuhnya perahu tersebut, atau bila mengangkut kendaraan roda dua plus pemiliknya, juga dengan harga yang sama Rp 125 ribu.

Menurut warga Kolam yang juga ikut mengais rejeki di Km 30, Gusti Mukri, bahwa jumlah getek tersebut berjumlah 60 buah baik dari Km 30 maupun dari Kolam, semuanya akan berangkat sesuai gilirannya dan tidak saling berebutan.

Ibarat aji mumpung, para driver getek tidak mengenal waktu dalam bekerja, dalam bila sanggup bisa 24 jam, pulang sebentar menjenguk keluarga, dan keperluan pribadinya, setelah itu kembali bekerja, tutur Gusti Mukri yang mendampingi istrinya berjualan disana.

Jalan tersebut merupakan jalan yang terdekat bagi warga yang ingin pulang ke Kolam atau ke Kabupaten tetangga seperti Sukamara, bahkan menuju Kecamatan Manis Mata Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat, dan bila mrnggunakan kendaraan roda empat sendiri, terpaksa harus melalui Kabupaten Lamandau, dengan perbedaan waktu hingga 1,5 jam lamanya.

“Kami berharap, pemerintah harus mengambil langkah cepat dalam mengatasi jalan yang selalu banjir bila kusim hujan atau air sungai pasang, agar tidak berlarut seperti ini,” ucap Gusti Mukri.

Mukri menyarankan, bila air sudah surut, segera dilakukan penimbunan sehingga jalan ini bisa fungsional kembali, dan dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan, baik dari waktu maupun pengeluaran dana yang tidak begitu banyak.

benner 2

TINGGALKAN KOMENTAR